Que sera, sera: Cerita inspirasi dari lagu que sera, sera

1

Inilah cerita yang dapat saya ambil dari lagu Que sera, sera:

Seorang gadis kecil bertanya pada ibunya tentang masa depannya.
Apakah dia bisa jadi kaya dan cantik?
Ataukah dia akan jadi kaya dan tampan?

Sang Ibu dengan bijak menjawab :
Biarlah masa depan mengalir dengan sendirinya.
Tugas manusia hanyalah berusaha untuk meraihnya.
Bukan menentukan.
Bukan pusing memikirkannya.
Biarlah masa depan tetap menjadi masa depan.
Tidak perlu dikhawatirkan dari sekarang.
Biarlah yang akan terjadi di masa depan terjadilah!

Que Sera Sera!
Apa yang akan terjadi, terjadilah!
Biarlah jiwa ksatria tumbuh dalam jiwa manusia
Tabah dalam menghadapi kenyataan yang akan dihadapi di masa depan.

Nikmati masa sekarang, pasrah pada-Nya tentang masa depan.^_^

Sebuah lagu keren tentang hidup sekarang dan hidup di masa depan. Lagu yang dipetik dari sound track film Alfred Hitchcock ini menarik garis tegas untuk membatasi rasa takut. Seolah-olah hendak berpesan untuk hiduplah di masa sekarang!

Jangan takuti masa depan!. Jangan biarkan masa depan membuat manusia resah dan gelisah sejak saat ini. Jangan biarkan rasa resah dan gelisah menghalangi langkah manusia dalam mempersiapkan masa depan. Jangan sampai kebahagiaan saat ini dikacaukan oleh kekhawatiran tentang masa depan.

Biarlah kekhawatiran masa depan berada di masa depan, jangan dipaksa hadir sekarang. Biarlah keindahan bunga-bunga padang rumput dimusim hujan menghiasi kehidupan manusia, tanpa diganggu pikiran bahwa bunga-bunga itu akan kering di musim kemarau.

Que Sera-sera (Whatever Will Be)
written by Jay Livingston and Ray Evans for Alfred Hitchcock’s 1956 re-make of his 1934 film
“The Man Who Knew Too Much” starring Doris Day and James Stewart.
Recorded by Doris Day

Berikut lirik lagu que sera,sera:
When I was just a little girl,
I asked my mother, “What will I be?
Will I be pretty?
Will I be rich?”
Here’s what she said to me:
“Que sera, sera,
Whatever will be, will be;
The future’s not ours to see.
Que sera, sera,
What will be, will be.”
When I was just a child in school,
I asked my teacher, “What will I try?
Should I paint pictures?
Should I sing songs?”
This was her wise reply:
“Que sera, sera,
Whatever will be, will be;
The future’s not ours to see.
Que sera, sera,
What will be, will be.”
When I grew up and fell in love,
I asked my sweetheart, “What lies ahead?
Will we have rainbows
Day after day?”
Here’s what my sweetheart said:
“Que sera, sera,
Whatever will be, will be;
The future’s not ours to see.
Que sera, sera,
What will be, will be.”

Now I have children of my own.
They ask their mother, “What will I be?
Will I be handsome?
Will I be rich?”
I tell them tenderly:
“Que sera, sera,
Whatever will be, will be;
The future’s not ours to see.
Que sera, sera,
What will be, will be.
Que sera, sera!”

Iklan

MOTOR ITU CERMINAN HATI

0

“Kalau ingin melihat orang itu berhati bersih atau kotor, cukup liat motornya!” Kata seorang trainer di sebuah workshop. Itulah jawaban trainer tersebut ketika ada yang nyinggung masalah ta’aruf(padahal bukan dauroh pra-nikah, siapa sih pake tanya ga nyambung gitu!).

“aduh,” reflek aku nyeletuk. Sang trainer pun tersenyum. Dalam hati masak iya sih. Motor itu cerminan hati. Motorku kotor, berarti hatiku sekotor motorku dong…T_T

Hal ini cukup mengena dalam hatiku. Masak iya sih, hatiku sekotor motorku*.* Banyak alasan yang aku utarakan terhadap diriku mengapa motorku kotor.

1. Aku sibuk, tak sempat nyuci motor.

2. Global Warming membuat cuaca tak menentu, sering hujan dan panas bersamaan. (alasan yang terlalu jauh)

3. Jalanan surabaya cukup banyak jalan yang ga sip. Jadinya berlubang dan meninggalkan genangan air untuk mengotori kendaraan.

4. Di jalanan surabaya, banyak tukang becak membasahi jalan biar ga panas, jadinya kalo kelewat ya kotor motornya.

5. Nyuci motor itu lama. Mending waktunya buat yang lain.

6. Trauma, baru selesai dicuci udah kehujanan dan kotor lagi.

7. Karena sibuk, seringkali capek, jadi mending waktunya buat istirahat.

8. Tidak tahu teknik mencuci yang baik dan benar.

9. Karena tidak tahu cara mencuci yang baik dan benar, ya harus ke tempat pencucian motor, mending duitnya buat beli bensin.

10. males.

Hmm, dari alasan-alasan di atas, saya menjadi lebih mengenal diri saya. Sisi positif dan negatif.

Positifnya, saya masih termasuk golongan yang berpikir.

Negatifnya, saya terlalu banyak berpikir yang ga penting dan terlalu banyak beralasan. Tapi alasan negatif. Saya jadi teringat Bani Israel jamannya Nabi Musa As. T_T. Nauzubillah.

Anehnya sebenarnya saya sadar bahwa alasan di atas tidak dapat saya sendiri terima.

1. Emang sibuk apa seh? Masih sering tidur kok.

2. Tidak seharusnya juga jadi alasan. Global Warming udah terjadi dan semakin parah. Kalo diterus-terusin jadi ga nyuci-nyuci.

3. Perasaan dari dulu begitu.

4. Sekarang malah nyalahin tukang becak! Emang berapa kali sih lewat jalan begitu?

5. Sok  SIBUK!!!

6. Alasan ga jelas….

7. Capek kebanyakan tidur kali. Wong masih punya waktu buat bersantai dan tidur, masih sempet maen, masih sempet liat tv, dll, dst, dsb.

8. Halah-halah, beberapa tempat cuci motor nyucinya juga ga bersih deh.

9. Halah-halah…

10. Penyakit yang udah jelas

Hha, alasan-alasan yang saya punya semuanya bisa saya bantai sendiri. Emang kebanyakan alasan. Jadinya malah ga jalan.

Akhirnya karena ga tega liat motor yang parah, dengan segala keterpaksaan aku pun mencuci motorku. Beuh, kotorannya numpuk dan hampir menjadi kerak. Bersihinnya susah dan ribet. Sampe harus mengulang beberapa kali untuk mendapat hasil yang maksimal. Huhu, pegel dewe tanganku. Lecet juga kalo kena kawat-kawat atau bagian motor yang tajam-tajam. Beuh!

Sambil agak mangkel dalam hati, teringat ucapan trainer, “Kalau ingin melihat orang itu berhati bersih atau kotor, cukup liat motornya!” bersambung dengan ucapan mas Tanto (kakak kelas saya) ”yang namanya hati ibarat kaca. Setiap hari kena kotoran. Kalo dibiarkan akan menumpuk, mengerak, dan sulit dibersihkan. Cara membersihkannya adalah dengan selalu membersihkannya ketika mulai terkena kotoran. Sebelum semakin sulit dan menjadi penyakit yang tak tertangani.”

Ow, saya pun menyambungkan dua ucapan orang tersebut. “Motor itu Cerminan Hati. Kalo ga setiap hari dibersihkan ya sulit bersihkannya. Lama-lama jadi tambah kotor, jadi tambah males dicuci, jadi tambah males dinaiki. Dan Akhirnya mengurangi produktifitas, terutama dalam kebaikan.”

Hmm,, ya tapi tetap saja males masih menghinggapi. Akhirnya saya lagi-lagi bikin alasan lagi. Tapi alasan-alasan mengapa saya harus mencuci motor saya.

1. Kamu itu organisator, ga malu ta punya motor kotor? Ga ingat ungkapan “Kebersihan sebagian dari iman?” (bukan hadist kayaknya…)

2. Ga males diomeli ibumu?

3. Kon ga seneng ta ndelok sepedamu resik?

4. Ga isin di delok koncomu?

5. Ga wedi ditiru adikmu?

6. Ga eman sepedamu? Selak neyeng!

7. Ga sungkan diilokno “Kemproh”

8. Ga risih dideloki uwong nang lampu  merah?

9. Ga eman duitmu?

10. Kon duduk wong islam ta? Kok males terus….

11. Kon ga beriman ta? Sawangane ga duwe isin… zzz (alasan paling jeru)

Dan, hmm,,, saya memang pintar beralasan….  –“ –a

Ya, selain motor memang cerminan hati, mungkin hikmah lain yang bisa kita(saya) petik adalah,

ketika kita(saya) punya SEPULUH alasan untuk tidak melakukan suatu kebaikan, kita(saya) harusnya juga mencari minimal SEBELAS alasan untuk melakukan kebaikan itu…

Wallahu a’lam